Articles Comments

NiasBerbagi.Com » Anak, Intermezo » Perbincangan Penis dan Vagina di keluargaku

Perbincangan Penis dan Vagina di keluargaku

Oleh : Dwiki Setiyawan

Saya agak kaget juga tatkala mendengar sayup-sayup anak kedua berkata kepada teman main perempuannya, “Kalau laki-laki itu namanya penis, punya kamu namanya
vagina.” Entahlah dan tidak tahu pasti, apakah si teman main perempuan itu paham dengan apa yang diucapkan Kevin, anak kedua saya yang duduk di kelas IV
Sekolah Dasar (SD) itu.
bb

Sedari usia bawah tiga tahun (Batita), saya memang telah sepakat dengan istri untuk menyebutkan apa adanya mengenai organ-organ reproduksi seksual yan
mereka miliki. Saya tidak mau memberi nama-nama lain seperti orang tua jaman dahulu yang justru asing bagi pemahaman mereka kelak soal dimaksud. Misalnya,
penis diganti dengan istilah “burung” atau “lingga”; vagina dengan “nunuk” atau “yoni” dan seterusnya. Menurut hemat saya sih, hingga kini belum menjadi
masalah. Jusru masalah buat teman-teman sepermainan anak saya yang merasa asing dengan kata itu.

Walaupun kelihatannya sepele, anak dalam perkembangannya kadang agak bingung membedakan mana burung dalam pengertian sebenarnya dengan burung dalam pengertiaan
sebagai pengganti istilah penis. Organ seksual lain, seperi payudara dan puting, juga saya katakan apa adanya tatkala mereka menanyakan sedari kecil

Tatkala bermain di kawasan Monumen Nasional (Monas), tidak lupa saya juga membahas soal Tugu Monas yang ada kaitannya dengan organ reproduksi manusia itu.
Tugu yang menjulang hingga lidah api itu melambangkan “Lingga” (bahasa Sansekerta untuk istilah penis), dan bagan cawan tugu melambangkan “Yoni” (bahasa
Sansekerta istilah vagina). Saya katakan pula bahwa lingga dan yoni atau penis dan vagina menjadi lambang bahwa untuk membangun tanah air Indonesia dibutuhkan
saling kerjasama dan perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Tanpa saya perlu menjelaskan detail mengapa lingga itu menancap ke yoni. Untungnya soal
itu tidak ditanyakan anak-anak, dan kalaupun ditanyakan saya pun telah siap dengan jawaban.

Di keluarga saya, membicarakan organ-organ seksual seakan-akan vulgar bukan sesuatu yang tabu. Dan saya berprinsip sudah selayaknya sedari kecil mereka
mengetahuinya, sekalipun tetap harus setahap demi setahap. Menurut saya itu tidak masuk dalam kategori pornografi. Jadi kalau di rumah saya wanti-wanti
dengan suara agak keras:”Kalau kencing sebelum tidur jangan lupa penisnya dibersihkan memakai air” itu tidak menimbulkan persoalan. Karena itu menyangkt
soal kebersihan organ seksual. Sama seperti halnya saya berpesan hampir serupa pada si sulung perempuan yang kini kelas VI SD.

Kelak ketika anak-anak saya menginjak awal SMA, saya sudah berencana akan memutarkan film-flm video kategori XX (semi porno). Menonton film dewasa dibawah
pengawasan orang tuanya. Saya justru takut jika mereka sembunyi-sembunyi untuk menonton film semacam itu atau tahu dari lingkungan teman-temannya. Sejauh
berbincag dengan istri mengenai kemungkinan tersebut, nampaknya setelah ditimbang-timbang lebih tetap lebih baik jika masih dbawah engawasan orang tua.
Lantaran, sebagai orang tua kita tetap bisa memberi nilai-nilai moral bagi anak. Misalnya, bagaimana hukumnya bersenggama tanpa ikatan pernikahan; apa
konsekwensinya; dan sederet tanya lain dengan sederet pula implikasi jawaban-jawabannya.

Yang jelas, saya tetap akan bertanggungjawab menanamkan dan mendidik tanpa henti nilai-nilai religi yang dianut, agar aklak mereka bertambah kuat dan tebal.
Sedari dini. Semoga saja.

*Dwiki Setiyawan,* anggota komunitas Blogger Kompasana. Ayah dari seorang putri dan dua putra yang masih kecil.

Filed under: Anak, Intermezo

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word