Articles Comments

NiasBerbagi.Com » Sketsa Nias » Kearifan Nias

Kearifan Nias

Oleh Ahmad Yunus

Gunung Sitoli jantungnya Pulau Nias. Di sini geliat perekonomian dan
perkantoran tumbuh. Kapal-kapal perdagangan, nelayan hingga kapal Ferry yang
menghubungkan Sibolga – Nias masuk ke sini. Kurang lebih perjalanan dari
Sibolga ke Nias sekitar 12 jam.

Ferry menjadi andalan utama Nias. Truk bermuatan naik dalam perut kapal.
Dari barang-barang sehari-hari sampai sayuran. Penumpang tidur sesak di atas
geladak kapal. Dari bayi hingga orangtua. Udara terasa pengap.
Kamar mandi
kotor sekali.

Kami sempat kena tipu oleh calo petugas pelabuhan. Ongkos dari Sibolga ke
Gunungsitoli menjadi mahal. Kami mengeluarkan kocek empat ratus ribu lebih.
Padahal seharusnya hanya sekitar tiga ratus ribuan. Ini sudah termasuk biaya
untuk kendaraan sepeda motor.

Nias termasuk pulau yang ramai. Wisatawan asing mengenal Nias karena
ombaknya. Banyak penggila surfing menghabiskan waktu liburannya bermain
selancar di Pantai Sorake. Ombaknya mencapai ketinggian satu hingga dua
meter. Gelombangnya panjang. Penginapan kecil menghadap laut. Pantai Sorake
menyerupai sepatu kuda.

Nias kaya dengan seni dan budayanya. Salahsatu yang terkenal adalah lompat
batu. Pemuda yang tinggal di Bawomataluo sanggup meloncat melewati tembok
batu hingga ketinggian dua meter lebih! Otot dan tulang kakinya kuat sekali.

Bawomataluo termasuk desa tradisional. Sekilas mirip perkampungan Asterix
dan Obelix. Banyak batu. Rumahnya terbuat dari kayu. Penyangganya dari
gelondongan kayu. Orang-orang duduk di pelataran rumah. Banyak jemuran
pakaian. Anak-anak kecil merengek meminta wisatawan untuk membeli
barang-barang souvenir.

Seorang warga bercerita gempa tak menghancurkan rumah-rumah tradisional ini.
Padahal penyangga rumah hanya tertumpu pada setumpukan batu saja. Rumah dan
perkantoran yang terbuat dari semen rontok.

Kami tak melihat lagi sisa kerusakan akibat gempa tahun 2005 silam.
Diperkirakan sekitar 500 orang mati. Kini, bangunan rumah, sekolah hingga
gedung perkantoran sudah berdiri normal. Kondisi aspal jalan mulus. Kini,
Nias juga memiliki gedung rumah sakit yang besar di Gunungsitoli.

Salahsatu tempat yang menarik dan jarang dikunjungi orang adalah Hilinawalo
Mazingo. Tak mudah masuk ke desa ini. Jalannya kecil dan berbatu. Di tepi
jalan utama tak ada informasi yang menceritakan kenapa desa ini layak
dikunjungi orang.

Di desa ini ada satu rumah kepala suku atau raja. Nama rumah ini Omo Hada.
Luas rumah ini sekitar 9 x 24 meter persegi. Ketinggian rumah mencapai 24
meter. Arsitektur rumah dan desanya tak jauh berbeda seperti desa
tradisional yang lainnya di Nias. Usia rumah ini diperkirakan sekitar 300
tahun!

“Rumah ini salahsatu rumah tertua di dunia,” kata Sofyan. Ia generasi ke
tujuh yang memiliki rumah ini.

Saya masuk dan melihat kokohnya bangunan ini. Penyangga kayu terlihat kuat.
Tak ada paku secuil pun. Rumah ini tak memiliki langit-langit. Batangan kayu
dan balok penyangga atap terstruktur rapi dan saling mengunci. Kami kagum
melihat rumah ini.

Dalam ruangan tak banyak barang. Ada satu televisi, soundsystem dan beberapa
gitar elektrik. Foto keluarga berjejer menempel pada dinding kayu. Kamar
tidur terletak satu ruangan dengan dapur. Uniknya, ada dua buah ruangan
sempit (Laki-laki dan perempuan) yang dulu dipakai sebagai penjara. Luasnya
hanya cukup untuk berdiri saja. Namun, kini tak berfungsi sebagai penjara
lagi. Kini ruang kecil itu hanya digunakan untuk menyimpan perabotan dapur
saja.

Dalam ruangan terasa teduh. Tak banyak cahaya yang masuk. Sirkulasi angin
terasa sejuk. Duduk berlama-lama di sini terasa betah. Saya membayangkan
bagaimana 300 tahun yang lalu ketika membangun rumah ini. Tak ada alat ukur
pasti. Dan tak ada peralatan kayu.

Bangunan ini termasuk salahsatu World Endangered Heritage dan telah
ditetapkan oleh satu lembaga internasional, World Monuments Fund yang
bermarkas di New York. Selain, Omo Huda, tempat lain yang masuk status ini
adalah Tanah Lot di Bali. Satu lembaga lokal di Medan, North Sumatra
Heritage membantu mengupayakan konservasi Omo Huda.

Di Gunungsitoli ada satu museum yang ciamik. Namanya, Museum Pusaka Nias.
Ini tempat koleksi artefak seni dan kebudayaan Nias. Mulai dari replika
rumah, patung dan ukiran, alat ritual dan perang, hingga foto-foto klasik
orang-orang Nias.

Melihat museum ini seperti membaca buku. Saya terbawa berimajinasi dalam
kehidupan Nias. Kehidupan Nias telah melahirkan peradabannya sendiri yang
unik dan maju pada zamannya. Salahsatu buktinya adalah arsitektur rumah
tradisionalnya yang menawan.

Museum ini rapi dan kaya dengan informasi. Ruangnya bersih. Koleksi buku
perpustakaanya juga cukup lengkap. Khususnya yang berkaitan dengan
penelitian arkeologi, sejarah dan antropologi Nias.

Saya senang melihat museum ini. Museum menjadi tempat belajar yang
menyenangkan. Dan saya merasa, Indonesia tak banyak punya museum seperti
ini. Di Mentawai, salahsatu pulau yang kita lewati, museumnya berantakan dan
berdebu. Di Jawa, Orde Baru, bahkan membangun banyak museum sebagai alat
propaganda politik yang menyesatkan.***


asf ::

Filed under: Sketsa Nias

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word