NiasBerbagi.Com » Amaedola » Sesuaikan dengan Situasi
Sesuaikan dengan Situasi
“Na adogo-dogo gambalada ba ta köröbui gaheda”
Sebagian besar dari kita sudah pasti pernah memakai selimut saat tidur, terlebih lagi jika cuaca cukup dingin atau kita tinggal di daerah yang bercuaca dingin atau saat kita sakit dan menggigil. Selimut menjadi barang yang sangat kita butuhkan dalam keadaan seperti itu. Kehangatan akan segera kita temukan ketika selimut sanggup menutupi seluruh anggota badan kita, setidaknya mulai dari leher hingga kaki.
Namun terkadang ukuran selimut yang tersedia tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mungkin kalau persoalannya terletak pada masalah tebal-tipisnya, hal tersebut masih bisa dimaklumi. Tapi jika selimut tersebut ukurannya lebih pendek dari tinggi badan kita maka mau tak mau badan ini yang harus menyesuaikan diri. Kita akan berusaha menciutkan badan kita hingga selimut tersebut bisa menutupi seluruh badan. Maka posisi tidur yang paling tepat adalah dengan tidur menyamping.
Kalimat di atas –“Na adogo-dogo gambalada ba ta köröbui gaheda”—adalah kalimat yang sering diungkapkan oleh masyarakat Nias untuk menggambarkan bahwa dalam segala hal kita perlu menyesuaikan diri. Situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita tak mungkin mengikuti apa yang kita kehendaki. Kita dituntut untuk fleksibel, memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri agar kita bisa bertahan dalam menjalani kehidupan ini.
Contohnia, jika kita mempunyai penghasilan Rp. 20.000 per hari, maka kita usahakan agar uang yang sebesar itu bisa kita siasati untuk mencukupi kebutuhan kita hari itu. Syukur-syukur jika masih bisa kita sisakan sedikit. Artinya kita perlu mengukur dan membandingkan apa yang menjadi item pengeluaran kita dengan sumber-sumber pemasukan yang kita dapatkan. Contoh lain, kita sering menginginkan untuk memilliki barang tertentu sementara kondisi keuangan kita sangat tidak memungkinkan untuk membeli barang yang dimaksud. Maka kalimat di atas perlu kita jadikan sebagai landasan pikir kita untuk bersikap. Jika kita memaksakan diri maka banyak konsekwensi yang akan menyertai keputusan yang kita ambil. Banyak orang pada akhirnya tidak mampu memanage stress yang dialaminya sebagai akibat memaksakan diri pada sesuatu yang sulit didapatkan. Ia punya keinginan yang besar tapi tidak didukung oleh kemampuan yang ada.
Beberapa saat setelah Pemilu Legislatif selesai dilaksanakan dan ketika gambaran hasilnya sudah mulai bisa disimpulkan, sejumlah caleg menjadi stress. Ada beberapa di antara mereka stress karena tau bahwa tidak mungkin mendapatkan kursi legislatif yang mereka impikan. Sementara itu, mereka sudah terlanjur untuk minjam uang disana-sini dan sudah menjual aset-aset pribadi yang mereka miliki. Kekalahan dalam Pemilu berbarengan datangnya dengan kenyataan bahwa utang menumpuk dan segera harus dilunasi. Dari mana sumbernya ? Memaksakan diri, itulah yang menjadi dasar masalahnya. Ketidakmampuan mengukur kapasitas pribadi akan menimbulkan bencana besar jika kita terus memaksakan diri pada sesuatu yang masih jauh di depan kita.
Walau demikian, kalimat di atas bukan juga mengajak kita untuk pasrah dan menyerah dengan keadaan kita. Tapi kita perlu memperhitungkan segala sesuatu sebelum kita mengambil keputusan. Cita-cita perlu kita gantungkan setinggi langit namun harus disertai dengan usaha optimal untuk mengaarahkan diri ke arah pencapaian cita-cita tersebut. Itulah yang bijaksana.
Filed under: Amaedola











bõi dou duga ambõ gaheu ba aekhu’õ tou dania
mungkin senada dengan amaedola di atas, disitu kita diajarkan untuk tidak memaksakan kemauan dalam keadaan yang tidak mungkin kita kejar.
terima kasih kepada Bang Constan Giawa yang yang telah membuat Website Nias Berbagi
dan kategori amaedola, semoga website ini mengajak kita agar lebih banyak mengetahui amaedola.
Like or Dislike:
0
0
[Reply]